Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Bupati Takalar Ungkap 5 Masalah Petani Rumput Laut

Iklan

Bupati Takalar Daeng Manye mengungkap lima persoalan utama yang masih dihadapi petani rumput laut di wilayahnya. Mulai dari keterbatasan modal hingga kualitas bibit menjadi tantangan yang ingin diatasi Pemkab Takalar melalui penguatan sektor agromaritim.

Persoalan tersebut disampaikan Daeng Manye saat menghadiri sosialisasi e-SEAWEEAD Field Visit Program Digitalisasi Petani Rumput Laut di Desa Ujung Baji, Kecamatan Sanrobone, Rabu (23/9/2026).

Daeng Manye menyebut Takalar memiliki potensi besar dalam pengembangan rumput laut. Daerah tersebut memiliki garis pantai sepanjang 74 kilometer dengan empat wilayah yang menjadi sentra produksi, yakni Sanrobone, Mappakasunggu, Galesong, dan Tanakeke.

“Takalar ini daerah agromaritim. Garis pantai kita 74 kilometer. Empat wilayah jadi sentra rumput laut, yaitu Sanrobone, Mappakasunggu, Galesong, dan Tanakeke. Ribuan warga kita hidup dari rumput laut,” tegas Daeng Manye.

Namun, potensi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah kendala. Petani antara lain kesulitan mengakses modal, pasar, dan informasi harga. Fluktuasi harga juga membuat mereka kesulitan membayar pinjaman ketika harga rumput laut turun.

Masalah lainnya berkaitan dengan serangan penyakit ice-ice yang membuat ujung rumput laut memutih dan menurunkan kadar karagenan. Selain itu, proses pengeringan masih dilakukan secara tradisional di pinggir jalan, sementara bibit yang digunakan masih berasal dari pola turun-temurun dan belum optimal memanfaatkan kultur jaringan.

Pemkab Takalar menyambut kolaborasi dengan International Labour Organization (ILO), Kemenko Perekonomian, KLH, OJK, Kospermindo, dan PROMISE2 IMPACT yang didukung Pemerintah Swiss melalui SECO. Kerja sama ini diharapkan mendukung praktik usaha yang lebih berkelanjutan sekaligus membantu menjawab persoalan petani.

Daeng Manye menilai digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan keluar, terutama untuk mempercepat akses informasi harga, pembiayaan, dan pasar. Dalam kegiatan tersebut, dia juga melihat langsung penggunaan aplikasi digital oleh petani Thomas, Arman, dan Umar untuk memantau harga secara real-time serta mencatat produksi, penjualan, dan pinjaman.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *